Selasa, Juli 22, 2014

Perang Al-Hurrah

Posted by Unknown On Selasa, Juli 22, 2014
Kemudian fitnah terus-menerus bermunculan setelah itu. Di antara fitnah ini adalah perang al-Hurrah yang terkenal pada masa Yazid bin Mu’awiyah. Waktu itu kota Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dibinasakan dan banyak dari kalangan Sahabat Radhiyallahu anhum yang terbunuh.

Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah berkata, “Berkobarlah fitnah yang pertama, maka tidak seorang pun tersisa dari Sahabat yang ikut dalam perang Badar. Kemudian terjadilah fitnah yang kedua, maka tidak tersisa seorang pun dari Sahabat yang ikut dalam perang al-Hudaibiyyah.”

Beliau berkata, “Dan saya yakin, seandainya fitnah yang ketiga terjadi, niscaya fitnah tersebut tidak akan hilang sementara Thabaakh  masih ada di kalangan manusia.”


Minggu, Juli 20, 2014

Menggunakan Istilah Jahiliyah Kepada Masyarakat Muslim

Posted by Unknown On Minggu, Juli 20, 2014
Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Ada sebagian orang yang menggunakan istilah jahiliyah bagi masyarakat Islam yang terdapat kerusakan di dalamnya. Dan penggunaan istilah ini memberi konsekuensi negatif sebagaimana yang Anda ketahui. Bagaimanakah bimbingan yang benar dalam masalah ini ?

Jawab :
Adapun sifat-sifat jahiliyah yang dilakukan oleh sebagian orang atau jama'ah atau sebagian anggota masyarakat memang masih ada, namun hal itu termasuk jahiliyah dalam ruang lingkup khusus bagi yang melakukannya.

Dengan demikian tidak boleh menggunakan istilah jahiliyah secara umum sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam buku Iqtidha Shiratul Mustaqim.

 

Sabtu, Juli 19, 2014

Keutamaan Ilmu

Posted by Unknown On Sabtu, Juli 19, 2014
Penguasaan ilmu Agama, tidak diragukan lagi sangat bermanfaat bagi seorang Muslim, Mengingat, seluruh aspek kehidupannya telah diatur oleh Islam. Orang yang berilmu akan berjalan dengan mantap. Sementara orang yang berpengetahuan agama pas-pasan, atau bahkan derajatnya nol, akan berhadapan dengan ketidakjelasan, keraguan dan perasaan was-was, bahkan mungkin saja terjerumus dalam lubang kesesatan. Bila merasa yakin pun, keyakinannya belum dapat dipertanggungjawabkan, karena tak berlandaskan ilmu.

Dalam al-Qur`ân, Allah Azza wa Jalla memuji orang-orang yang berilmu. Sanjungan-sanjungan tersebut hanya ditujukan bagi mereka yang mendalami ‘ilmuddîn (ilmu agama). Ilmu yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Itulah sumber kebaikan yang hakiki dan murni.  

Kebaikan sangat penting bagi seseorang di dunia ini. Dengan berilmu, seseorang akan mengetahui kebaikan-kebaikan yang banyak. Tak mengherankan, bila Allah Azza wa Jalla menyuruh Rasul-Nya yang mulia untuk memohon tambahan ilmu. Allah Azza wa Jalla berfirman: 

dan katakanlah :"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". [Thâhâ/20:114]

Ayat di atas, dinyatakan oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya (al-Fat-h, 1/187), sangat jelas berindikasi tentang keutamaan ilmu yang sangat besar. Sebab, Allah Azza wa Jalla tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan apapun selain tambahan ilmu

Syaikh as-Sa'di rahimahullah menjelaskan alasan mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , hamba Allah yang paling berilmu tentang Allah Azza wa Jalla , diperintahkan untuk berdoa memohon tambahan ilmu. Kata beliau, “ Sesungguhnya ilmu adalah kebaikan. Dan limpahan kebaikan memang dibutuhkan. Ilmu itu sendiri berasal dari Allah Azza wa Jalla . Dan cara untuk menggapainya ialah dengan keseriusan, antusiasme besar kepada ilmu, memintanya dan memohon bantuan kepada Allah Azza wa Jalla serta menghinakan diri kepada-Nya pada setiap saat. Demikian penuturan beliau dalam tafsirnya (hal. 551)

Sebagai pelaksanaan dari perintah di atas, di antara doa yang beliau panjatkan berbunyi:  

Ya Allah, berilah manfaat atas apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah, dishahihkan al-Albâni]

Perhatian besar terhadap masalah penting ini juga menjadi bagian kehidupan generasi Salaf. Mereka memohon tambahan ilmu dari Allah Azza wa Jalla al'Alîm al-Khabîr. 'Abd bin Humaid rahimahullah dan Sa'îd bin Manshûr rahimahullah meriwayatkan bahwa 'Abdullah bin Mas'ûd Radhiyallahu anhu pernah berdoa:  

Ya Allah, berilah aku tambahan iman, pemahaman, keyakinan dan ilmu 

Seorang Muslim sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, senantiasa diperintahkan agar memohon tambahan ilmu juga karena ilmu ibarat lautan yang tak pernah bertepi. Semakin dalam seseorang mengarunginya, semakin sadar betapa dangkal apa yang telah ia mengerti. 


Tentara Hizbullah dan Syi'ah

Posted by Unknown On Sabtu, Juli 19, 2014
Peperangan di wilayah Libanon pada pertengahan 2006M seakan menorehkan kegetiran. Sebuah pertempuran yang konon "dimenangkan" oleh Hizbullah atas Yahudi telah menyihir kaum Muslimin, yang pada umumnya terpesona dengan kemenangan kelompok tersebut. Bahkan sebuah media massa Islam, edisi September 2006 dalam salah satu rubriknya, telah mengulas dan memberikan sanjungan terhadap Musa ash Shadr, salah satu tokoh Syi'ah yang memiliki benang merah dengan Hizbullah. 
 
Oleh karena itu, sebagai kaum Muslimin, kita harus waspada. Betapa tidak? Hizbullah yang merupakan pasukan milik kaum Syi'ah di Libanon itu, tentu tetap mengusung aqidah Syi'ah. Yang dalam perjalanannya, Syi'ah sangat memusuhi Ahlu Sunnah, atau kaum Muslimin secara umum. Semestinya kita bersikap kritis dan waspada, bukan justru tertipu dengan menyanjungnya.  

Tulisan berikut hanyalah mengungkap sedikit tentang Musa ash Shadr, yang merupakan tokoh penting sebagai pendahulu munculnya gerakan Syi'ah di Libanon yang kini populer. Lebih jauh tentang data-data empirisnya, bisa dikaji dalam kitab Wa Ja`a Daurul-Majus, karangan Dr. 'Abdullah bin Muhammad Gharib, Cet. VI, Th. 1408 H – 1988 M, tanpa penerbit.
 
Hubungannya dengan Khomaini sangat erat. Ahmad, putra Khomainimenikahi kemenakan perempuan Musa Shadr. Sedangkan kemenakan lelakinya kawin dengan cucu Khomaini.  

Musa ash Shadr berimigrasi ke Libanon pada tahun 1958, dengan menyandang status sebagai seorang ulama yang didelegasikan dari Najef untuk menghidupkan aktifitas keagamaan di kalangan orang-orang Syi'ah Libanon.
 
Di Libanon, Musa Shadr menjumpai kondisi yang sangat kondusif. Pimpinan Libanon Fuad Syihab memberinya berbagai fasilitas. Di antaranya kemudahan mendapatkan kewarganegaraan Libanon, yang sebenarnya sulit diraih oleh orang non Nashara. Faktanya, masih banyak suku dan penduduk yang bermukim di sana sejak lama belum berhasil mendapatkan kewarganegaraan Libanon, karena bukan penganut Nashara. Akan tetapi berbeda dengan Musa Shadr. Aneh, dia begitu mudah mendapatkan kewarganegaraan Libanon, padahal merupakan pendatang yang baru saja menginjakkan kakinya di bumi Libanon.  

Seperti dinyatakan oleh Dr. Musa al Musawi yang juga seorang politikus, bahwa pada tahun 1958 M, Jendral Bakhtiar, Panglima Angkatan Bersenjata Iran mengutus Musa ash Shadr ke Libanon, membekalinya dengan bekal finansial yang dibutuhkan. Setelah sepuluh tahun, Musa ash Shadr menduduki pimpinan majlis tinggi Syi'ah di Libanon. Pemerintah Iran telah menganggarkan satu juga lira Libanon untuk tujuan tersebut.
 
Pendirian AMAL (Afwajul-Muqamawatil-Lubnaniyyah), merupakan langkah Musa ash Shadr berikutnya. Gerakan ini sebagai sayap militer bagi orang-orang yang terpinggirkan (harakah mahrumin yang ia dirikan) di Libanon (baca, Syi'ah) dan guna mempertahankan kepentingan-kepentingan di sana.  

Sebelumnya, sayap militer ini merupakan gerakan di bawah tanah. Namun, pasca meledaknya sebuah granat di kamp latihan mereka, eksistensinya pun disosialisasikan. Padahal sebelumnya, Musa ash Shadr termasuk orang yang menentang mempersenjatai warga sipil.
 
Disebutkan dalam al Mausu'ah (1/442), gerakan Afwajul-Muqamawatil-Lubnaniyyah (AMAL), adalah sebuah gerakan yang mengadopsi aqidah Syi'ah dan madzhab Ja’fari dalam seluruh keyakinannya. Pemberontakan dan perlawanan bersenjata menjadi salah satu dasar pendirian gerakan ini. Namun yang layak dipertanyakan ialah, perlawanan kepada siapa?
 
Kalau melakukan perlawanan kepada Nashara, maka tidak mungkin, lantaran Nashara telah membuka pintu di Libanon bagi AMAL. Dan bukan juga untuk melawan kekuatan Zionisme Yahudi. Sebab, Musa ash Shadr pernah mengatakan : "Kami tidak sedang dalam kondisi peperangan dengan Israil (Yahudi)…".  

Bila bukan Nashara ataupun Yahudi, maka tidak ada lawan yang tersisa, kecuali Ahli Sunnah dan organisasi-organisasi milik warga Pelestina yang ia anggap mewakili Ahli Sunnah, dan berpotensi menjadi duri bagi mereka. 
 
Untuk mengelabui khalayak, ia mengusung motto humanis palsu bagi organisasinya ini, seperti beriman kepada Allah, menghidupkan budaya Libanon, menegakkan keadilan sosial, terutama di wilayah Libanon bagian selatan yang tersebar opini adanya jalinan kerja sama antara pembesar AMAL dengan Yahudi. Begitu pula fakta menunjukkan, jika gerakan ini menjalin hubungan dengan dunia luar. Ini menjadi jelas, dengan adanya kerja sama dengan musuh Islam untuk menghantam kaum Muslimin Sunni di Libanon. Pendanaan baginya dari luar tetap mengalir lancar, kendati muncul gerakan militer baru Syi'ah, yaitu Hizbullah di Libanon yang berafiliasi kepada Iran.  

Dari berbagai pemikirannya, dapat disimpulkan (Al Mausu’ah, 1/443), bahwa organisasi AMAL di Libanon bukan merupakan gerakan agama, tetapi merupakan gerakan sekulerisme dan untuk memfasilitasi kaum Syi'ah yang terpinggirkan di sana. Orientasinya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Penetapan orientasi gerakan ini dilakukan oleh 180 pemikir Libanon yang mayoritas beragama Nashara. 
 
Dengan sedikit catatan tentang dirinya, apakah sepantasnya seorang Musa ash Shadr dielu-elukan dan disanjung? Tentu jawabnya, tidak!
 
Sumber : http://almanhaj.or.id/content/2327/slash/0/musa-ash-shadr-penganut-agama-syiah/
 
 

Perintah Untuk Ikhtiar

Posted by Unknown On Sabtu, Juli 19, 2014
Firman Allah:

"Artinya : (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." [At-Takwir: 28-29]
 
"Artinya : Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka." [Al-Qashash : 68]

Firman Allah:

"Artinya : Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." [Ash-Shaff : 5]
 
"Artintya : (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membantu, mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya" [Al-Maidah : 13]

Masalah hidayah sama halnya dengan masalah rizki dan menuntut ilmu. Sebagaimana kita semua tahu bahwa manusia telah ditentukan rizki yang menjadi bagiannya. Namun demikian dia tetap berusaha untuk mencari rizki ke kanan dan ke kiri, di daerahnya sendiri atau di luar daerahnya. Tidak duduk saja di rumah seraya berkata: "Kalau sudah ditakdirkan rizkiku tentu akan datang dengan sendirinya." Bahkan dia akan berusaha untuk mencari rizki tersebut. Padahal rizki ini disebutkan bersamaan amal perbuatan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud:
 
"Sesungguhnya kalian ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian beruah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari pula, kemudian berubah segumpal daging selama empat puluh hari pula, lalu Allah mengutus malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat perkara, yaitu: rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan apakah termasuk orang celaka atau bahagia."


Bahaya Maksiat : Bahaya Bid'ah

Posted by Unknown On Sabtu, Juli 19, 2014
Dari Ummu Darda’ Rahiyallahu ‘anha, Dia berkata : “Abu Darda datang menemuiku dalam keadaan jengkel. Lalu aku bertanya : “Ada apa denganmu!” Dia menjawab : “Demi Allah, aku tidak melihat mereka –sedikitpun- berada pada ajaran Muhammad, hanya saja mereka semua melakukan shalat” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]


Dari Umar bin Yahya, dia berkata : “Aku mendengar ayahku menceritakan dari bapaknya, dia berkata : ‘Adalah kami sedang duduk-duduk di pintu (rumah) Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu sebelum shalat Dzuhur –(biasanya) bila dia keluar (dari rumahnya) kami pun pergi bersamanya ke masjid-, tiba-tiba datang Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu dan berkata : “Adakah Abu Abdir Rahman (Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu) telah keluar dari kalian ? Kami menjawab : “Belum”. Lalu diapun duduk bersama kami sampai akhirnya Abdullah bin Mas’ud keluar. Setelah dia keluar, kami berdiri menemuinya dan Abu Musa Al-Asy’ari berkata : “Wahai Abu Abdir Rahman, tadi aku melihat di masjid suatu perkara yang aku mengingkari, dan alhamdulillah, aku tidak melihatnya kecuali kebaikan”. Dia bertanya : “Apa itu?” Abu Musa menjawab :”Bila kau masih hidup niscaya kau akan melihatnya sendiri” Abu Musa lalu berkata : “Aku melihat di masjid beberapa kelompok orang yang duduk dalam bentuk lingkaran sambil menunggu (waktu) shalat. Dalam setiap lingkaran itu ada seseorang laki-laki dan ditangan-tangan mereka ada batu-batu kecil, orang laki-laki itu berkata :’Bacalah takbir 100 kali’, mereka pun bertakbir 100 kali, kemudian berkata lagi :’Bacalah Tahlil 100 kali’, mereka pun bertahlil 100 kali, kemudian mereka berkata lagi :’Bacalah Tasbih 100 kali, mereka pun bertasbih 100 kali.

Abdullah bin Mas’ud bertanya : ‘Apa yang katakan kepada mereka !’ Abu Musa menjawab : ‘Aku tidak mengatakan apa pun pada mereka, karena aku menunggu pendapatmu atau menunggu perintahmu!, Abdullah bin Mas’ud menjawab : ‘Tidaklah kamu perintahkan pada mereka untuk menghitung kesalahan-kesalahan mereka, dan kau beri jaminan bagi mereka bahwa tidak ada sedikit pun dari kebaikan mereka yang akan hilang begitu saja ?’.

Kemudian dia pergi dan kamipun ikut bersamanya, hingga tiba di salah satu kelompok dari kelompok-kelompok (yang ada di masjid) dan berdiri di hadapan mereka, lalu berkata : ‘Apa yang kalian sedang kerjakan?’ Mereka menjawab : ‘Ya Abu Abdir Rahman, (ini adalah) batu-batu kecil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, tasbih dan tahmid’. Abdullah bin Mas’ud berkata : ‘Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian. Aku akan menjamin bahwa tidak ada sedikitpun dari kebaikan-kebaikan kalian yang akan hilang begitu saja.

Celaka kalian wahai umat Muhammad, alangkah cepatnya kebinasaan kalian, lihat sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih banyak, baju-baju beliau belum rusak dan bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh, (apakah) kalian ini berada pada ajaran yang lebih baik dari ajaran Muhammad ataukah kalian sedang membuka pintu kesesatan’. Mereka menjawab : ‘Demi Allah, wahai Abu Abdir Rahman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan’. Abdullah bin Mas’ud berkata : ‘Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak dapat meraihnya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami bahwa ada sekelompok orang yang membaca Al-Qur’an tapi hanya sampai sebatas kerongkongan mereka saja. Demi Allah, aku tidak tahu, barangkali sebagian besar mereka dari kalian-kalian ini’. Kemudian dia pergi dan Amr bin Maslamah berkata ; ‘Kami lihat sebagian besar mereka memerangi kita pada perang Nahrawan bersama dengan kelompok Khawarij” [Hadits Riwayat Ad-Darimy]

 Ada seorang laki-laki yang datang kepada Imam Malik bin Anas Rahimahullah, dia bertanya : “Dari mana saya akan memulai berihram ?” Imam Malik menjawab : “Dari Miqat yang ditentukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau berihram dari sana”. Dia bertanya lagi : “Bagaimana jika aku berihram dari tempat yang lebih jauh dari itu ?” Dijawab : “Aku tidak setuju itu”. Tanyanya lagi : “Apa yang tidak suka dari itu ?” Imam Malik berkata. “Aku takut terjatuh pada sebuah fitnah!”. Dia berkata lagi : “Fitnah apa yang terjadi dalam menambah kebaikan ?” Imam Malik berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih” [An-Nur : 63]


Jumat, Juli 18, 2014

Keutamaan Makan Sahur

Posted by Unknown On Jumat, Juli 18, 2014
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.’” [H.R. Ibnu Hibban]

“Rasulullah Shallallahu bersabda:

‘Makan sahur adalah makanan yang penuh dengan keberkahan, maka janganlah engkau meninggalkannya, walaupun salah seorang di antara kalian hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.’” [H.R. Ahmad]

Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengabarkan bahwa:

“Allah berfirman: ‘Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang langsung mem-balasnya.’” [H.R. Bukhari]

Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab adalah pada makan sahur.”  [H.R. Muslim]

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu ada keberkahan.’” [H.R. Asy-Syaikhani]

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang mengajak untuk makan sahur pada bulan Ramadhan, beliau bersabda: ‘Marilah kita makan yang dipenuhi dengan keberkahan.’” [H.R. An-nasa'i]

Sumber : http://almanhaj.or.id/content/3308/slash/0/shalawat-para-malaikat-bagi-orang-yang-makan-sahur/

Kesehatan dan Waktu Luang

Posted by Unknown On Jumat, Juli 18, 2014
Allah menyebutkan kenikmatanNya yang lain kepada manusia, yaitu Allah menciptakan binatang ternak dengan segala manfaatnya untuk manusia. Demikian juga berbagai binatang yang dapat dijadikan tunggangan dan pengangkutan. Allah menyebutkan kenikmatan-kenikmatanNya yang lain secara berturut-turut, kemudian mengakhirinya dengan berfirman:

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nahl:18].

Sungguh, kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang. Nikmat ini sangat agung nilainya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebutkan dengan sabdanya :

Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya. [HR Ibnu Majah, no. 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 5918]

Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepadaNya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepadaNya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits di bawah ini:

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933].

Ath Thayyibi rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat gambaran bagi mukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari keuntungan dengan keselamatan modalnya. Caranya dalam hal itu ialah, dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allah dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan musuh agama, agar dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini seperti firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? [Ash Shaf:10]

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm di dalam hadits tersebut “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” seperti firman Allah:

Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. [Saba’:13].

Imam Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Nabi bersabda menasihati seorang laki-laki :

Ambillah kesempatan lima (keadaan) sebelum lima (keadaan). (Yaiutu) mudamu sebelum pikunmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, cukupmu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu, kehidupanmu sebelum matimu. [HR Al Hakim di dalam Al Mustadrak; dishahihkan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shahih At Targhib wat Targhib 3/311, no. 3355, Penerbit Maktabul Ma’arif, Cet. I, Th. 1421 H / 2000 M].

Sumber : http://almanhaj.or.id/content/3077/slash/0/nikmat-sehat-dan-waktu-luang/

 

Rabu, Juli 16, 2014

Perselisihan dalam Idul fitri

Posted by Unknown On Rabu, Juli 16, 2014
Diantara imam fiqih berpendapat, bahwa berbedanya Mathla berlaku dalam menentukan permulaan puasa dan penghabisannya.

Itu semua karena perbedaan mereka dalam memahami nash dalam mengambil istidlal dengannya.

Kesimpulannya
Permasalahan yang ditanyakan masuk ke dalam wilayah ijtihad. Oleh karenanya, para ulama -baik yang terdahulu maupun yang sekarang- telah berselisih. Dan tidak mengapa, bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal pada malam ketiga puluh untuk mengambil hilal yang bukan mathla mereka, jika kiranya mereka benar-benar telah melihatnya.

Sumber : http://almanhaj.or.id/content/1652/slash/0/bagaimana-pendapat-islam-tentang-perselisihan-hari-raya-kaum-muslimin-idul-fithri-dan-idul-adh-ha/

Blogger news


Blogroll

Yang sudah mengunjungi blog ini

web visitor statistics